Yang di Hormati

Teruntuk anda yang saya hormati,
Usia kita memang berbeda, anda tentunya lebih tua dari saya beberapa tahun. Masa anda dan saya memang berbeda, namun anda senantiasa mengajak saya untuk mengetahui hal-hal yang terjadi di masa anda. Masih ingat bagaimana saat masa kecil dahulu kita bersama menikmati jalan-jalan menyusuri kota. Mencari poster-poster grup band luar, dimana saya sendiri belum mengenal musiknya namun anda memberitahukan pada saya tentang kerennya band tersebut. Semakin dewasa, kita pun semakin tumbuh dalam pandangan hidup masing-masing. Kita pun mulai lebih sering bertengkar, terkadang hal sepele. Namun dalam beberapa kejadian kita bertengkar hebat, bahkan pertengkaran tersebut membuat kita saling menjaga jarak. Hmm sebenarnya sih saya yang menjaga jarak, karena terkadang saya sudah terlalu malas untuk terlibat dalam perdebatan. Kita mulai jarang berdiskusi, jarang tertawa bersama atau jalan bareng. Namun saya selalu menghormati anda, apapun dan bagaimanapun. Hingga malam ini kita kembali terlibat dalam sebuah diskusi yang bahkan kita lupa bahwa esok kita masih harus beraktifitas kerja, sampai akhirnya kita diingatkan untuk istirahat. Yupz, berdiskusi dengan anda selalu menarik, banyak hal postif yang bisa saya ambil.

Anda akan selalu saya hormati meski apapun yang terjadi antara kita


Kepada Senin

Halo senin, andai kamu bisa bicara, pasti kamu akan membalas orang-orang yang ngedumel dalam hati mengenai hari senin. Senin selalu identik dengan stress, macet dimana-mana, kemalasan tingkat tinggi dan hal lainnya. Mungkin senin kalau diberi pilihan tidak ingin jadi hari pertama.

Senin selalu menjadi awal aktifitas, karna itu kepada senin kumohonkan agar senantiasa mendukung segala aktifitas dengan baik. Karena apa yang terjadi selama seminggu kedepan diawali oleh hari senin. Seburuk apapun hari senin, saya masih percaya untuk bisa merubahnya di hari lainnya. Dan hal baik yang terjadi dihari senin, saya percaya akan memberi semangat luar biasa untuk aktifitas di hari lainnya.


Kepada senin janganlah bikin stres,
Kepada senin janganlah memadamkan semangatku,
kepada senin....

Senin kupastikan semangatku.




Untuk Viona

Viona jelek, berani sekali kamu kirim surat kolong meja ke aku tanpa melampirkan anak mas pula. Penghapus kamu masih baik-baik aja kok seperti aku yang masih baik-baik aja dikelas tiga. Eh iya, aku sih sekarang udah ga narik-narik baju, atau "sst..sst" lagi untuk minta contekkan, soalnya aku disuruh duduk dimeja paling depan sama bu neneng, biasalah doi pengen lihat muka ku lebih jelas.. heheheh. Hmmm, untuk ujian sih gampil, aku pasti dapet nilai rata-rata diatas delapan. Kalau aku berhasil, kamu traktir anak mas di mamang diman ya.


Dari orang tertampan dimasa depan,

Dudu

p.s: aku sih bukannya bodoh 2 tahun dikelas tiga, tapi bu neneng aja yang ga mau aku tinggalin ... :P .

Untuk Dudu

Halo Dudu, item, jelek dan ingusan. Kamu apa kabarnya, masih suka makan anak mas atau permen kojak. Eh iya gimana kabarnya dengan penghapus aku yang kamu pinjam, pasti udah kucel seperti kamu yah. 

Dudu, aku kok kangen kamu yah, kangen saat kamu narik-narik baju aku, saat kamu 'sssst...ssst' ketika meminta contekkan, kangen saat kamu menyipitkan mata, memutar bola mata kekanan atau kekiri hanya untuk curi-curi pandang melihat jawabanku yang tak kuberi padamu.

Dudu, segini dulu yah suratku, sengaja terlampau singkat, kan kamu sendiri orangnya paling malas baca yang panjang-panjang paragrafnya .. hehehe.

Salam kangen,

Viona,

p.s: Jangan lupa belajar buat ujian, masa kamu ga bosen sih 2 tahun di kelas 3 sd mulu.