Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan

Menjaga Hati

"Hai ta, besok meet-up yuk, kangen nih lama ngga ngobrol-ngobrol"

sebuah sms masuk ke ponsel milik Renata, tertera nama Aldi sebagai pengirimnya.

"Ngga di, ngga bisa"

Balas Renata beberapa saat kemudian.

Ting ... Suara pesan masuk kembali terdengar.

Renata kembali membaca layar ponselnya.
"Hmm, yaudah klo gitu aku main aja ya kerumah kamu, yang penting ngobrol dan bercanda sama kamu cinta"

Aldi mengirim kembali pesan, sambil menyelipkan panggilan genit.

Kembali Renata membalas seperti pesan sebelumnya "ngga bisa". Namun Aldi terus mencoba, hingga akhirnya Renata mengirimkan pesan terakhir sebelum handphonenya dimatikan.

"Maaf di, aku ngga bisa. Aku harus menjaga hati untuk Rendy, ada separuh hatinya yang dititipkan ke aku. Maaf yah"

...jauh dalam lubuk hatinya, ada Rendy...seseorang yang ia cintai. Meski Rendy sedang sibuk dengan urusannya, namun Renata tetep menunggu, dan menjaga hati yang telah dititipkan.

Di Atas Awan

Lo emang orang paling cuek dalam pergaulan...
Tapi gw akui, dalam hal ini lo adalah orang paling bijaksana dan penuh persiapan matang.
Bagaimana ngga? Lo urus semua akomodasi perjalanan jauh-jauh hari, mencari tiket murah, mencari transportasi yang murah, sewa homestay, hingga perlengkapan untuk kebutuhan selama 1 minggu.

Ya, 10 bulan sebelumnya lo berkata dengan santai... " Naik ke gunung semeru yuk" ucap lo tanpa basa-basi apapun yang gw saut dengan persetujuan.

selang 1 bulan, lo udah ngabarin semua sudah siap, bahkan agenda apapun udah lo rinciin. Gw masih ingat, lo cuma bilang "Kosongin jadwal 1 minggu ya, cuti kerja diurus".

Perjalanan yang memang panjang, kita sebagai sahabat dari jaman sekolah dengan seragam abu-abu, hingga udah kerja... membuat perjalanan ngga pernah membosankan atau melelahkan, ya karena udah seringnya kita travelling bareng. Tapi kali ini beda, ini kali pertama kita naik gunung.. dan ngga tanggung-tanggung lo ngajak naik ke gunung semeru dimana ini bukan kelas pemula. Puncak para dewa, titik tertinggi pulau jawa dengan tinggi 3676mdpl.

Kita memang berjalan santai, hingga akhirnya tibalah di semeru, puncak yang menjulang... puncak para dewa, keindahan yang ibarat setitik surga jatuh kebumi saat kita menghabiskan malam di Ranu Kumbolo, saat kita menyusuri oro-oro ombo yang legendaris, hingga tiba di Kalimati.

Ya, kalimati...
Batas aman yang dianjurkan untuk pendaki, karena medan ke puncak sungguh berat dan berbahaya. Hingga memulai summit, tak ada yang aneh... hingga akhirnya jarak tersisa 100 meter dari puncak.

Kakiku tak bisa lagi dipaksa melangkah, ia sudah sampai dititik daya tahan seorang manusia. Saat itu aku berkata "Sabar ya, mungkin istirahat sebentar bisa lanjut lagi kok". Namun kamu langsung menjawab tegas " Kita turun, ngga mungkin dipaksain".

lalu..

"Puncak memang sangat penting, tapi kembali dengan selamat jauh lebih penting".

Gw pun berkata "Lo aja yang muncak... ya, gw ngga apa-apa kok. Raih puncak semeru buat gw".

Namun tiba-tiba, kata-kata mengagetkan dari lo keluar "Ngga, kita berangkat sama-sama, kepuncak pun sama-sama. Kalo lo ngga bisa, ya gw pun juga ngga. Puncak bukan segalanya, tapi siapa yang bersama-sama berjuang itu lebih dari segalanya".


... 3 tahun berlalu....

Kini, hari ini 17 Agustus 2014,  4.884 Mdpl ... salah satu 7 summits... Puncak Jaya Wijaya.

Disini kita bersama mengibarkan bendera merah putih.

..entah apa yang akan terjadi jika 3 tahun lalu aku memaksakan diri.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program 
Simulasi Kompetisi Menulis 
berhadiah 2 tiket PP + voucher menginap di hotel berbintang BALI dari www.nulisbuku.com dan www.tiket.com 


Cinta Itu Dekat

Cinta itu apa?

Kamu selalu bilang, cinta itu bukan sekedar ucapan..
Kamu bilang, cinta itu perbuatan.

Pukul. 06.00 am.
"Hai selamat pagi sayang, jangan lupa sarapan dan semangat untuk aktivitas  hari ini, Love you" sms kukirimkan padamu.

Setiap pagi aku harus sms kamu, memberikan kabar dan memeberikan ucapan selamat pagi. Rutinitas ini bukan sekedar sms yang tak berarti. Seolah rutinitas ini menjadi bagian penting dalam aktifitas, berusaha untuk tidak kesiangan mengabarkan maupun memberi salam. Rutinitas yang kulakukan pertama saat ku hendak pergi beraktifitas, atau memulai aktifitas. Ya rutinitas yang kamu anggap membosankan karena sms ku isinya sama, padahal banyak hal yang ku usahakan untuk rutinitas ini.


Pukul. 12.30 pm

"Hai, selamat siang... jangan lupa makan ya. Hmmm kok ngga ada kabarnya dari pagi" tanyaku.

selang beberapa saat kemudian...

"Iya, sama-sama. Hmm abis bosen, gitu-gitu mulu smsnya. Telpon kek" balasmu.


Aku selalu bilang, aku paling malas telponan, entahlah tidak suka aja. Namun, aku lebih suka sms.. kenapa? karena dengan begitu ada sesuatu yang selalu bisa kulihat dan baca berulang-ulang.

Kamu mungkin ngga akan tau berapa kali aku membaca pesan yang sama darimu, membayangkan wajahmu..senyumnya.. renyah tawamu.

Ah kamu ngga tau kalau tulisan itu abadi.

Kamu selalu merasa kita serasa jauh meski dekat, sedangkan buatku... bahkan lima kata dari sms yang kamu kirim  membuatku merasa kamu dekat hingga bisa kubayangkan wajahmu diantara langit siang atau malam.


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program 
Simulasi Kompetisi Menulis




Hari Ini

Ayah dan Mama:
Tanggal berapa hari ini... kok tumben-tumbenan beli kue.

Mereka sama-sama berujar seperti itu keheranan. Tidak biasanya anak-anak membeli makanan di pertengahan bulan ini, gajian udah lewat, tidak ada yang ulang tahun pula.

Kami (anak-anaknya):
Hari ini kan tanggal 12 Maret, hari dimana ayah dan mama mengikrar janji menjadi teman hidup. 

Silahkan Bicara dan Marah

"Nak, sarapan dulu, kalau belum sarapan kamu ga boleh pergi" ucap mama dipagi hari
"Nak, pulang jam berapa?" ucap mama singkat tanpa menunggu jawaban langsung menutup telepon.
"Nak, makan dulu" ucap mama kala melihat anaknya langsung tidur sesampainya pulang kuliah.
"Nak, kamu ga boleh pulang/pergi malam, ga boleh nongkrong ga jelas, ga boleh... bla bla bla..."


dan balasannya selalu sama 
"aaaah, iya nanti".
"aaah, aku sudah besar, aku tau kok"
dan seringnya diabaikan.


suara terisak terdengar, setelah satu jam tanpa kata "ma, ngomong ma, jangan diam aja, aku akan dengerin mama, mama boleh marahin aku tiap hari deh yang penting mama ngomong" seorang anak dengan wajah yang tampak lesu, menggoyangkan perlahan bahu ibunya. namun tak ada respon dari tubuh yang kini terbujur kaku.



RI-1

Malam itu, langit sangat indah penuh bintang. Malam Natal yang indah di Nabire, Papua. Mungkin ini hadiah untuk masyarakat sini yang baru tertimpa musibah Gempa beberapa waktu lalu.

08.00 WIT
Mentari pagi bersinar indah di bumi Papua, perjalanan selanjutnya adalah menuju Ambon.

11.00 WIT
Tujuan berubah, aku tidak jadi ke Ambon, dan memerintahkan semua staf untuk menuju Aceh, itu setelah kudengar bahwa Aceh diguncang gempa 8,9 SR yang bahkan menurut BMKG Amerika adalah Kelima terbesar sejak 1900

Tanah Aceh ....
Aku menjejakkan kakiku , sejauh mata memandang hanya tampak puing-puing, wajah-wajah penuh kesedihan. Ah, cobaan apalagi untuk bangsa ini, untuk rakyatku, dan untukku yang baru beberapa bulan dilantik.

Aku Cinta kamu

Dia wanita biasa, aku tahu itu.
Dan ketika orang-orang mempertanyakan cintaku padanya, ku jawab "Dia memang biasa tapi aku cinta dan sayang dia".

Mencintainya sudah seperti kebutuhan, meski kadang tak ada kata yang terucap...
Mencintainya sudah seperti kebutuhan, meski kadang selalu di isi pertengkaran...

Tak peduli berapa menit, jam , hari bahkan tahun.... berapapun pertengkaran yang kita lalui, berapapun keheningan yang terjadi... aku masih tetap cinta.

"Ya, aku cinta kamu Icha" gumamku pada bulan.
Dan kuyakin kamu menatap bulan yang sama jauh di pulau seberang sana...
Aku menunggumu, karena cinta.

Sudah Terlambat

"Hey,... kamu mondar-mandir terus" ujar Asha padaku.
"Hmm, ada banyak hal yang ingin kukatakan" gumamku dalam hati.
... Esok hari kulihat dia bergandengan tangan dengan Vino,... ah sudahlah, sudah terlambat.


Sebulan Lagi

"Eh Toby, si Zahra udah mau merit aja loh " Dani tiba-tiba mengatakan hal itu tatkala mereka sedang bercerita nostalgia masa sekolah dulu.

"Iya gue tau " ketus Toby, raut mukanya pun berubah jadi masam.

"Eeh, kok lo jadi kecut gitu, kenapa lo, hem jadi kepikiran pengan merit juga" ledek Dany.

Namun entah mengapa, masam wajahnya Toby tidak seperti biasa. Dani tahu raut muka seperti itu, yah,... itu adalah mimik wajah patah hati.

"Lo suka dia, isn't really?? sebuah kalimat tanya langsung dilontarkan Dany sambil tertawa dan langsung saja Toby menjawab dengan isyarat anggukan kepala.

"Lo serius, kok bisa... sejak kapan" buat Dany yang sudah cukup mengenal Toby, jelas itu jawaban yang serius, hanya dengan isyarat dan tanpa kata-kata.

"Sejak dulu sampai sekarang entah kenapa gw ga berani ungkapin itu ke dia" jawab Toby, sambil menunduk. Dan sekarang, she's get married.

"KENAPA LO GA BERANI" Dany terlihat emosional. Lo harusnya berjuang dulu, lo ga pernah mau coba sih, ayo dong By masih ada waktu sebulan kok, siapa tau dia memilih pasangan yang salah, atau okelah mungkin benar pilihannya tapi siapa tahu itu pilihan kedua, karena elo pilihan pertamanya ga ngungkapin-ngungkapin atau nunjukin perasaan lo ke dia.

"Gw udah sempet berani, yap tepat kemarin gw akhirnya berani, tapi akhirnya keberanian gw kembali memudar, bukan karena gw takut akan kenyataan pahit bahwa mungkin gw bukan pilihan pertama, lo harus tahu gw yakin kok. Sekali lagi, bukan karena gw takut itu, tapi gw takut kalo elo batal nikah sama dia. Selamat yah, gw percaya lo pilihan terbaik dia". Ucap Toby kalem, yang membuat rasa emosional Dany hilang berganti menjadi keheningan. 



Cuma Mau Bilang

"Vie, kamu dimana " ucap rangga ketika panggilan teleponnya diterima. 

"Aku di kantin, emang kenapa? " vie mengernyitkan dahinya seketika setelah memilih 'terima' dilayar hpnya.

"Bisa ke taman ga, sebentar ajah ada yang mau diomongin nih " Dan Rangga menutup telponnya.

Vie masih saja mengernyitkan dahi, ada apa Rangga memintanya ke taman hanya untuk mengatakan sesuatu. Vie tahu rangga orang yang terbuka, sahabatnya itu selalu berkata terus terang. Tapi ada apa hari ini, kenapa rangga seolah sok misterius, padahal tanggal cantik 11-11-2011 sudah berlalu, yah hari yang indah baginya dan penuh keunikan se-unik angka-angka itu.

Vie pun bergegas menuju taman, dibenaknya penuh tanda-tanya tentang telepon singkat rangga.

" Eh Ngga, so misterius banget sih loh, pake matiin telpon mendadak " wajah Vie cemberut, namun dimata Rangga mimik wajah itu adalah mimik wajah yang amat menggemaskan dan ia sukai.

"Gua cuma mau bilang sesuatu.. " Rangga hening sejenak.

"Bilang apa sih..." Vie makin tak sabar yang langsung ditutup bibirnya oleh telunjuk Rangga.

"Ssst... tunggu, ada angin " ekspresinya terlihat serius.

"Memang kenapa dengan angin " Tanya Vie dengan tatapan aneh. 

"Soalnya gw mau bilang, kalo gue cinta sama loe, dan gue takut kalo angin menyampaikan kata-kata gue ini ke cowo lo " .

Senyummu

Ardi telah tiba dirumah Stella. Stella terlihat rapih dan cantik, dan Ardi menanyakan perihal habis dari mana Stella yang dijawabnya sambil tersenyum simpul “habis jalan aja tadi ke mall”. Senyum itu sangat khas, seperti senyum saat mereka berdua jalan berdampingan menjenguk sahabat yang sakit, saat dua mata mereka saling menatap. 

“Stell, Lo udah jadian sama Toby yah?” tiba saja Romi teman Ardi yang datang bersama kerumah Stella berbicara. Stella tersenyum seperti biasa, senyum yang membuat Ardi hening terpesona seperti saat jalan berdampingan, saat awal tadi datang kerumah Stella namun kali ini dadanya sesak. 

Kata-kata terucap dari bibir Stella yang tipis, menjelaskan bahwa ia ditembak Toby saat menjenguk sahabat mereka Toby yang sedang sakit, dan tadi dia pun habis jalan sama Toby. Dan Senyum itu, Stella tidak akan pernah tahu rasanya bahwa senyum itu sudah menyakiti Ardi. 

*Sebuah cerita flash fiction yang dikirim untuk #11Projects11days 

*update terbaru, cerita ini berhasil masuk ke buku kedua dari project dihari pertama, yay ^_^

Seharusnya Kamu Sadar

            Rinai melempar tas, mengambil beberapa lembar tisu. Ia membuka blackbery nya dan mengetikkan sesuatu di aplikasi twitternya.
“Kamu tuh ga pernah ngerti apa mau ku, .. Cuma bisa makan hati T_T “.
Tidak hanya satu kicauan yang ia buat, bukan karena sudah 3 hari ia tidak online, tapi karna ia memang sedang ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan.
“Kurang sabar apa sih, kenapa sih kamu giniin aku”.
“Kenapa sama temen cewenya dan temen-temennya yang lain bisa, tapi sama aku ngga T_T “
“Hem selalu aku yang ngalah, yasudahlah terserah apa maumu “
            Ardan membuka laptopnya, ia ingin sejenak refreshing dari tugas-tugas yang sangat memusingkan. Seperti biasa, ia membuka aplikasi twitternya via google chrome. Dan selalu ritual pertama saat membuka twitternya, ia akan melihat TL Rinai, entahlah seolah itu adalah sebuah kewajiban. Ada sesuatu yang sangat ia sukai setiap melihat TL perempuan satu ini, meski kadang ia suka cemburu melihat kicauan perempuan itu bila ia berbalas mention dengan pacarnya atau teman-temannya. Dan saat ini, ketika ia melihat empat buah twitt yang baru saja dibuat, sadar tidak sadar Ardan pun menuliskan sesuatu di twitternya.
“Kau Harusnya Memilih Aku yang lebih mampu menyayangimu berada disampingmu #np”
Yah, ia berharap Rinai membacanya, meski ia tahu, Rinai takkan pernah menyadarinya.