Hai

Hai mas-mas tukang pos, maaf ya untuk selalu merepotkan. Iya saya tahu bahwa batasnya jam enam sore untuk mengirimkan surat, tapi sekali lagi karena kesibukan kerja, maka saya baru bisa membuatnya malam hari. Oh iya, anda pun telah memberikan solusi untuk menulis surat yang dikirimkan ke esokan harinya dimalam sebelumnya. Tapi lagi-lagi saya pun masih belum bisa, karena masih membagi waktu dengan mengerjakan tugas kantor yang belum selesai.

Hai mas-mas tukang pos, terkadang saya berpikir kerjaan anda sangat menyenangkan. Hanya menerima dan 'mengirimkan' surat, tapi ternyata sepertinya sangat melelahkan yah, bahkan mungkin mengorbankan waktu untuk menerima surat-surat. Terkadang beberapa pengirim pun banyak berkomentar bahwa suratnya belum dikirim-kirim juga, tapi tetap saja anda menanggapi mereka dengan ramah.

Hai mas-mas tukang pos, tetap semangat yah menerima surat dari para penulis pemula....
Hai mas-mas tukang pos, jangan lupa untuk cukup istirahat yah....
Hai mas-mas tukang pos, jangan menahan diri untuk ke toilet yah kalau lagi memantau surat yang masuk...
Hai mas-mas tukang pos, tetap terima surat saya yah meski dikirimnya malam hari... :))

Dari Pengirim Surat Kemalaman.



Kamu adalah Orangnya

Teruntuk sahabat,

Hai, sepertinya kita sudah lama tak berjumpa. Apa kabarmu? dengar-dengar sudah menikah dan menjadi seorang ayah, ah... aku turut berbahagia meski kamu tak membaginya padaku. Padahal jaman kita masih sekolah dulu, masih nongkrong bareng, kita pernah saling berujar akan menghadiri pernikahan satu sama lain dimanapun dan kapanpun waktunya. Tapi kamu memilih tidak memberitahukannya, bahkan ketika setelah setahun lebih menikah dan istrimu melahirkan, kamu pun tak memberitahuku. Oh iya, tak perlu bingung aku tahu darimana, yang pasti aku selalu mengikuti perkembanganmu.

Aku masih teringat akan masa-masa kita menghabiskan masa sekolah bersama. Kita mulai dekat kala memasuki sekolah menengah pertama, dimana kita sama-sama dari Sekolah Dasar yang sama. Saat di sekolah dasar kita tidak terlalu dekat, namun semua berubah di masa smp. Saat itu kita sama-sama dalam satu gugus saat masa orientasi siswa, dan ternyata kita sekelas di kelas satu. Awalnya kita tidak duduk sebangku, namun di catur wulan dua kita duduk sebangku. Kita menjadi pasangan duduk yang paling kompak, selalu membuat iri setiap orang dengan tertawa kita yang selalu mentertawakan segala hal. Pokoknya semua hal kita anggap lucu.

Banyak hal sebenarnya yang ingin kuceritakan, mengenai masa kita dahulu, atau bercerita tentang masa sekarang. Tentu akan butuh banyak lembaran surat, atau bahkan kita bisa menghabiskan sehari semalam untuk bercengkrama. Namun surat pertamaku untukmu ku akhiri sampai disini dulu, nanti aku akan menuliskan surat-surat lainnya untukmu. 

Kamu adalah orang yang memberikanku panggilan kala sekolah, yang dari panggilan itu membuat semua orang disekolah mengenalku.
Kamu adalah orang yang selalu bercerita tentangku, yang membuat semua orang ingin mengenalku.
Kamu adalah orang yang selalu mengerti, mau mendengar, dan selalu mampu memberikan solusi.
Kamu adalah orangnya.... sahabatku.

Dari Sahabatmu,


Bolodog 

*dulu sistem pendidikaan dibagi dalam 3 caturwulan(satu tahun kalender akademik dipecah menjadi 4 bulan)

Badut itu Bisa Romantis

Sebuah doa bisa menenangkan hati,
Sebuah kata bisa memotivasi seseorang
dan sebuah tulisan bisa membuat orang tersenyum ataupun murung .....

Kalimat ke-3 itulah yang kudapati saat pertama kalinya membaca timeline mu. Hanya 140 kata yang kamu rangkai dimana tweet yang satu dan lainnya saling berhubungan. Terkadang beberapa tweet-mu memang tidak terurut, namun sekali lagi kamu berhasil membuat senyum mengembang ataupun menjadikanku murung.

Tersenyum, karena melihat betapa serunya duniamu yang kamu bagi lewat 140 karakter di twitter. Dari penggunaan bahasa sundamu yang selalu khas, dari celotehanmu tentang cinta, tentang musik ataupun cerita kesialanmu. Yapz, beberapa kesialanmu yang kamu bagi dengan 140 karakter membuatku mulai bisa tersenyum dikala menghadapi kesialan.

Murung, teramat sering celotehanmu membuatku merenung. Celotehan tentang #beranimengubah #bincangminggu dan #sahabatLokananta telah menyentakku. Usia kita mungkin tak beda jauh(ya tentunya sih lebih muda diriku :D ) tapi kamu hebat, muda dan inspiratif.
Dikala aku hanya melakukan perubahan untuk diri sendiri, kamu sudah mencoba melakukan perubahan untuk orang banyak.
Dikala aku hanya menikmati musik di mp3, kamu sudah menggerakkan untuk menjaga dan mengenalkan berbagai macam musik di Lokananta.
Dan dikala aku hanya mencari sumber inspirasi orang sukses yang terkenal, kamu membagi inspirasi orang-orang yang berjuang atas passionnya masing-masing meski beberapa terdengar asing dan biasa-biasa saja.

Ah ya, mungkin terkadang beberapa mentionku kerap menambah jumlah mention yang masuk(istilahnya sih bikin sampah aja :D ) dan kamu tak segan mau berdiskusi meski beberapa tweet. Dari mentionku tentang Stand Up di Youtube (video itu yang membuatku memfollow-mu), lalu yang cukup sering adalah saat ada followermu yang meminta follback, dan aku pun ikut menyambar dan kamu mengucap kan " Ah kamu pengertian sekali " (kalo ga bener berarti salah :D ).

Oh iya, berkat #bincangminggu akupun jadi terinspirasi untuk membuat hal semacam itu yang sebenarnya sudah dari tahun kemarin terpikir, bedanya adalah, aku ingin membuat #bincangselebtwit (entah sudah ada atau belum) dan ku ingin kamu yang menjadi narasumber pertamanya (itupun kalau mau, :D).

Kamu memang badut, bukan dengan pakaian dan pernak-pernik aksesoris, tapi dengan kata-kata. Dan kamu adalah @badutromantis.





Menyapamu

Halo kamu disana, apa kabarnya. Masihkah setia menggantung dilangit sana. Ah sudah lama sepertinya tak menatapmu dikala matahari hendak pergi kebelahan dunia lain, dikala kerlip genit bintang di pekatnya malam.

Kira-kira apakah kamu masih sama seperti dulu, ya seperti saat kumasih teramat kecil. Hmmm, kukira sekarang aku sudah tak lagi mengenal kamu seperti dulu. Kamu tampak berubah, bahkan berubah drastis. Hal itu yang pertama kali kurasakan saat kembali melihatmu, tapi ternyata aku salah. 

Aku sepertinya yang berubah, 
Aku sepertinya yang takut untuk menuju tempatmu, 
Aku yang menghindar darimu. 

Terkadang tidak adanya kesempatan dan kesiapan yang menjadi alibi ku bahwa aku tak bisa menuju dirimu. Namun sebenarnya akulah yang tidak berani mencoba.

Dan sekarang akupun menjalani hariku, sesekali menatapmu dari kejauhan, diantara sekian hari rutinitas yang begitu sibuknya, entahlah apakah aku akan bisa menujumu  Wahai Impianku.